Public Speaking, Personal Branding, dan Digital Marketing
Menjadi Tour Leader membutuhkan kemampuan komunikasi yang kuat. Dalam perjalanan, Tour Leader berhadapan langsung dengan banyak orang, membawa agenda, memberikan arahan, menghadapi perubahan situasi, hingga menjaga kepercayaan peserta.
Namun perkembangan industri travel membuat kompetensi Tour Leader ikut berkembang.
Tour Leader sekarang juga dapat membangun personal branding, mempunyai audiens sendiri, menjaga hubungan dengan jamaah setelah perjalanan selesai, bahkan ikut membantu travel mendapatkan customer melalui kanal digital.
Hal ini menjadi salah satu materi yang dikembangkan dalam kolaborasi Kevin Kautsar bersama Coach Yoso Lukito dan Sekolah Digital Bisnis Indonesia (SDBI).
Ada tiga kemampuan yang perlu diperhatikan adalah public speaking, kemampuan membangun kepercayaan melalui akun personal, dan digital marketing untuk bisnis travel.
1. Public Speaking Menentukan Cara Tour Leader Dipercaya
Public speaking bagi Tour Leader sangat dekat dengan pekerjaan sehari-hari.
Bayangkan ketika puluhan jamaah menunggu arahan. Informasi sebenarnya sudah benar, tetapi penyampaiannya terlalu panjang dan tidak terstruktur. Sebagian peserta bisa menangkap informasi berbeda. Di sinilah kemampuan komunikasi dibutuhkan.
Tour Leader perlu mampu menentukan poin utama sebelum berbicara, menyampaikan informasi secara runtut, mengatur intonasi, dan memastikan peserta memahami apa yang harus dilakukan.
Kemampuan ini semakin penting ketika muncul situasi yang tidak sesuai rencana. Tour Leader yang mampu berbicara dengan tenang akan lebih mudah mengendalikan komunikasi dengan rombongan.
Karena itu, kelas public speaking untuk Tour Leader sebaiknya dekat dengan situasi nyata di lapangan, bukan sebatas latihan tampil di depan panggung.
2. Tour Leader Perlu Mulai Membangun Personal Branding
Hari ini calon jamaah dapat mengenal Tour Leader bahkan sebelum bertemu langsung. Mereka bisa melihat Instagram, TikTok, YouTube, atau konten yang dibagikan melalui WhatsApp.
Artinya, akun personal dapat berkembang menjadi aset profesional.
Tour Leader dapat membagikan pengalaman perjalanan, persiapan sebelum keberangkatan, edukasi destinasi, tips untuk jamaah, cerita dari lapangan, sampai cara mempersiapkan perjalanan dengan lebih baik.
Konten seperti ini membantu audiens memahami pengalaman dan kompetensi orang di balik akun tersebut. Personal branding kemudian terbentuk dari apa yang secara konsisten dilihat audiens. Bukan tentang terlihat terkenal. Yang dibangun adalah reputasi dan kepercayaan.
3. Akun Personal Bisa Membantu Closing Jamaah
Ada perbedaan besar antara menawarkan paket kepada orang yang belum mengenal kita dan menawarkan kepada audiens yang sudah mengikuti konten selama beberapa bulan.
Pada kondisi kedua, sebagian proses membangun kepercayaan sudah terjadi sebelum percakapan penjualan dimulai. Inilah mengapa personal branding Tour Leader mempunyai hubungan dengan closing.
Konten dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan yang sering muncul dari calon jamaah. Setelah muncul ketertarikan, komunikasi dapat dilanjutkan melalui WhatsApp.
Tour Leader atau agen kemudian perlu memahami kebutuhan calon jamaah, menjelaskan paket dengan jelas, menjawab keraguan, dan melakukan follow-up pada waktu yang tepat.
Jadi jangan melihat closing sebagai satu percakapan terakhir. Prosesnya dapat dimulai jauh sebelumnya melalui konten.
4. Digital Marketing Travel Harus Punya Alur yang Jelas
Coach Yoso Lukito juga menekankan pentingnya melihat digital marketing sebagai sebuah sistem.
Bisnis travel dapat menggunakan beberapa kanal dengan fungsi berbeda:
- SEO dan website untuk menangkap orang yang sedang mencari informasi atau paket perjalanan.
- Instagram, TikTok, dan YouTube untuk membangun awareness serta edukasi.
- Personal branding Tour Leader dan agen untuk memperkuat kepercayaan.
- Digital Ads untuk memperluas jangkauan kepada target market yang relevan.
- WhatsApp untuk menangani inquiry, konsultasi, follow-up, dan proses menuju transaksi.
- Database customer untuk menjaga hubungan dengan jamaah yang pernah menggunakan layanan.
Dengan alur tersebut, bisnis travel tidak harus mengandalkan satu kanal untuk mendapatkan customer.
5. Jamaah Lama Juga Merupakan Aset Bisnis Travel
Setelah perjalanan selesai, hubungan dengan jamaah sebaiknya tetap dijaga. Data customer dapat dikelola sehingga travel mengetahui siapa yang pernah berangkat, perjalanan apa yang pernah diikuti, dan kapan komunikasi berikutnya relevan dilakukan.
Tour Leader memiliki posisi yang menarik dalam proses ini karena pernah berinteraksi langsung dengan jamaah selama perjalanan.
Pengalaman yang baik dapat berkembang menjadi repeat order, referral, testimonial, atau rekomendasi kepada keluarga dan teman. Artinya, kualitas Tour Leader juga mempunyai hubungan dengan pertumbuhan bisnis travel.
Baca Juga : Sekolah Digital Bisnis Indoensia Dampingi Strategi Paketin Cargo Menjangkau Indonesia Lebih Luas
Tour Leader Masa Kini Perlu Menguasai Komunikasi dan Digital
Inilah alasan Kevin Kautsar dan Coach Yoso Lukito bersama Sekolah Digital Bisnis Indonesia mengangkat pengembangan Tour Leader dari beberapa sisi sekaligus.
Public speaking membantu Tour Leader ketika berhadapan dengan rombongan. Personal branding membangun reputasi profesional. Kemampuan closing membantu mengelola calon jamaah. Digital marketing memperluas peluang mendapatkan market.
Ketika kemampuan tersebut bertemu, Tour Leader mempunyai value yang lebih kuat bagi jamaah maupun perusahaan travel.
Materi mengenai Public Speaking for Tour Leader, cara closing jamaah melalui akun personal agen travel, dan digital marketing untuk menjual paket travel juga dibahas melalui Bincang Bisnis SDBI bersama Kevin Kautsar dan Coach Yoso Lukito.
Tonton materi Kevin Kautsar & Coach Yoso Lukito di YouTube SDBI



