Dalam sebuah sesi eksklusif di kantor pusat NashTa Global Utama, Yoso Lukito, CEO dan Founder Sekolah Digital Bisnis Indonesia (SDBI), hadir sebagai pembicara utama untuk menyampaikan materi penting yang menjadi refleksi mendalam bagi para pelaku bisnis di era modern. Dalam kunjungannya, beliau menekankan 3 poin kunci yang sangat menentukan apakah sebuah bisnis bisa bertahan atau justru hancur di tengah perubahan zaman.
1. Jangan Meremehkan Perubahan Tren Pasar
Coach Yoso membuka materinya dengan satu pernyataan tegas, “Jangan pernah nyaman dengan keberhasilan masa lalu.” Menurutnya, salah satu penyebab utama bisnis jatuh adalah ketidakmampuan membaca perubahan tren pasar. Di tengah cepatnya pergeseran perilaku konsumen, teknologi baru, dan pola komunikasi digital, pelaku usaha harus senantiasa sigap membaca arah angin. Strategi yang relevan kemarin bisa jadi sudah tidak cocok digunakan hari ini. Dalam diskusi bersama tim NashTa yang dikenal sebagai perusahaan IT dengan layanan end-to-end, Coach Yoso menekankan bahwa inovasi bukan sekadar tambahan, melainkan keharusan dalam bertahan hidup.
2. Terbuka Terhadap Feedback dan Evaluasi Diri
Materi kedua menyentil ego sebagian pelaku usaha. Coach Yoso mengingatkan bahwa banyak bisnis gagal bukan karena produknya buruk, tapi karena pendirinya enggan mendengar masukan. “Kalau kamu sudah merasa bisnismu paling benar, justru di situlah awal kejatuhannya,” ujar Coach Yoso. Ia menegaskan pentingnya mendengarkan suara pelanggan, melakukan evaluasi berkala terhadap pelayanan dan produk, serta bersedia menerima kritik secara terbuka. NashTa sendiri, dalam pengembangannya, dikenal memiliki budaya agile yang terbuka terhadap revisi dan improvement berdasarkan data dan feedback klien, hal yang diapresiasi Coach Yoso sebagai budaya bisnis sehat yang patut dicontoh.
3. Cepat Beradaptasi dengan Teknologi dan Sistem Baru
Poin ketiga yang disampaikan Coach Yoso adalah urgensi adaptasi teknologi. “Di era digital, kecepatan dan efisiensi adalah segalanya. Kalau masih berpikir manual dan menolak sistem, siap-siap ditinggal pasar,” jelasnya. Ia mencontohkan banyak bisnis ritel dan jasa yang kolaps hanya karena menunda digitalisasi sistem. NashTa, sebagai perusahaan penyedia solusi digital yang meliputi cloud service, hybrid IT infrastructure, hingga cybersecurity, dinilai telah berada di jalur yang tepat dalam mendukung digital transformation berbagai perusahaan di Indonesia.
Penutup: Bertahan Berarti Berubah
Dalam closing statement-nya, Coach Yoso menyampaikan pesan kuat bahwa rasa puas dan enggan berubah adalah musuh utama pertumbuhan. Dunia bisnis terlalu dinamis untuk dijalankan dengan cara-cara lama. Dibutuhkan kerendahan hati, semangat belajar, dan kesiapan adaptif agar sebuah bisnis tetap relevan dan tidak hancur oleh waktu.
Kunjungan ini menjadi bagian dari sinergi antara SDBI dan NashTa Global Utama dalam membangun ekosistem bisnis yang tangguh dan digital-ready. Melalui edukasi dan kolaborasi seperti ini, diharapkan semakin banyak pelaku usaha yang sadar bahwa perubahan bukanlah musuh, melainkan pintu menuju keberlanjutan.



